MASALAH IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASi KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DAN SOLUSINYA

MASALAH IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASi
KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DAN SOLUSINYA

Data Meskipun pendataan di RS telah bersifat digital akan tetapi terdapat beberapa kendala untuk melakukan migrasi data dasar sebagai penunjang SIRS. Data transaksi/proses bisnis RS tidak terpusat, tetapi tersebar di banyak divisi. Karenanya, data tidak mengalir sesuai dengan proses bisnis yang ada. Perbedaan format dan media penyimpanan data juga menghambat proses integrasi. Karena teknologi untuk melakukan konversi data spesifik secara massal tidak tersedia, sebagian proses migrasi data dilakukan secara manual. Penelitian ini menemukan, RS yang telah bekerja sama dengan BPJS memiliki sistem Indonesian Case Based Groups (INA CBGs) dalam mengelola tarif layanan untuk pasien. Konektivitas antarsistem yang sudah ada dengan SIRS harus dijamin untuk menjaga integritas data. Temuan ini menguatkan penelitian sebelumnya7 . Soh et al. (2000) dalam penelitiannya menemukan bahwa format dan hubungan data yang tersedia membutuhan upaya ‘mlipir’ (workaround) untuk menjadikan kompatibel dengan sistem enterprises resource planning (ERP).
Solusinya : harus menyediakan 1 operator yang memegang program sistem informasi kesehatan untuk pengumpulan data bagi setiap ruangan.

Teknologi Infrastruktur jaringan dan komputer yang belum terpasang secara merata di seluruh bagian RS, merupakan masalah yang ditemui pada tahapan pra-implementasi SIRS. Faktor teknologi lainnya yaitu kesiapan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) baik dari sisi server dan komputer terminal (client). Masalah ini mengharuskan proses baru, yakni pengadaan barang yang melibatkan pihak manajemen sebagai pengambil keputusan.
solusinya : penggandaan barang yang melibatkan pihak manajemen sebagai pengambil keputusan.

Proses bisnis Tiap RS memiliki karakteristik dan tingkat kompleksitas yang berbeda. Hal itu tercermin dalam modul SIRS yang diimplementasikan. Adanya permintaan modifikasi SIRS menjadi hal yang lumrah dan harus dilakukan agar sistem dapat berjalan sesuai dengan proses bisnis yang diinginkan oleh di RS tersebut. Namun demikian, kebutuhan rekayasa ulang proses bisnis pada sistem enterprise dapat dilakukan namun tetapi dengan tetap dengan biaya yang minimum4 . Kurangnya dukungan dari pihak RS untuk menyediakan team khusus sebagai jembatan komunikasi dalam proses rekayasa ulang SIRS mengakibatkan lambatnya proses penyesuaian proses bisnis SIRS.
solusinya :

Kognisi personel Paradigma berpikir dari personel RS adalah melayani pasien dan kegiatan administratif telah terbiasa dengan penggunaan media fisik yaitu menggunakan kertas/buku. Resistensi yang muncul pada implementasi SIRS disebabkan oleh enggannya banyak pegawai RS dalam mengbah cara kerjanya dari proses manual ke pemanfaatan teknologi, menggunakan SIRS. Domain kognisi personel ini sangat berkaitan erat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak manajemen khususnya kebijakan penghargaan (reward and punishment).
solusinya : pelatihan atau pembelajaran seperti pembelajaran SIK agar memudahkan dalam pekerjaan digital.

Manajemen Masalah yang terdapat pada sisi manajemen RS sangat kompleks. Meyakinkan manajemen sebagai pengambil keputusan membutuhkan usaha yang cukup besar. Manajemen tidak selalu ‘satu kata’ dalam setiap keputusan. Tidak semua manajemen juga mau mendelegasikan pekerjaan, seperti terkait dengan pemilihan administrator dan operator yang akan melakukan aktivitas rutin di SIRS. Masalah semakin rumit ketika personel RS tidak siap menerima delegasi. Selain itu, di beberapa RS, manajemen tidak melakukan proses sosialisasi SIRS dan mobilisasi personel untuk mendukung penggunaan SIRS secara memadai. Tidak adanya kebijakan penghargaan (reward and punishment) membuat para personel RS menganggap ‘enteng penggunaan SIRS. Penelitian juga menemukan bahwa dari lima RS, hanya satu (SR) yang melakukan evaluasi SIRS
solusinya : manajemen harus mendorong pegawai untuk menggunakan SIRS dengan imbalan atau memberi rewards pada pegawai yang menggunakan SIRS dengan baik, sehingga itu memotivasi para pegawai lainnya untuk berlomba-lomba menggunakan SIK.

Diterbitkan oleh

silmi

Silmi Nurhamidah Mahasiswi STIKes Kota Sukabumi Kelas 4b s1 keperawatan semester 7